Monday, March 6, 2017

Makan yang Menyatukan CInta

Hari ini penulis membuka-buka arsip foto di facebook. E eeeh ternyata FB itu pengarsip foto yang paling yahud. Coba deh kalau foto-foto dari HP dan kamera itu disimpang di laptop. Seringkali kita lupa kapan itu diambil karena tidak ada stamp tanggalnya.Ya sudah memang lebih enak minta bantuan FB untuk mengarsip foto.
Aji dan Jati selalu gembira jika diajak makan ikan

 Ketemu foto tahun 2014, berarti anak kami Aji dan Jati lagi berumur 5 tahun  dan mereka masih homeschooling. Memang waktu-waktu itu masih longgar istri juga punya jam kosong mengajar. Sehingga kadang-kadang kalau dompetnya juga longgar terus bablas cari tempat makan.
Kami menemukan warung makan yang ndelik di daerah Kelor,Kecamatan Karangmojo. Memang letaknya tidak strategis di tepi jalan besar namun harus masuk lewat jalan masuk Rumah Sakit Panti Rahayu Kelor.  letaknya persis di belakang rumah sakit.  Papan nama juga tidak terlalu mencolok namun sudah cukup menandakan kalau itu sebuah rumah makan dengan sajian khas ikan.
Yang kami sukai justru termpatnya yang tersebunyi sehingga bila  mau ngobrol lebih santai.Tempatnya sederhana memang namun bersih dan teduh. Di halamannya banyak tumbuh pohon kersen /talok (Muntingia calabura).
Ikannya juga segar karena diambil langsung dalam keadaan hidup di kolamnya.Nah sambelnya juga mantap lho, khas sambel nggunung yang pedas. Namun kita bisa juga minta yang tidak pedas. Penulis lupa nama rumah makannya.

Monggo bila mau mencoba...... kalau tidak tahu tempatnya bisa saya bantu lho..Hehehe

Kemping Keluarga di Pantai Drini : Sebelum Semuanya Berubah

Sekitar tahun 2010-2012 penulis sering ke Pantai selatan karena menemani isteri mengambil data penelitian. Dalam kurun waktu tersebut kami jadi banyak kenal dengan para nelayan dan pedagan di warung pantai Baron, Kukup dan Drini. Ketiga pantai tersebut cukup terkenal di kawasan pantai selatan Gunungkidul.
Beberapa tahun kemudian setelah anak-anak kami sudah bisa lebih melewati balita kami lanjutkan petualangan dengan kemping pantai.

Beberapa pantai sudah kami datangi untuk kemping diantaranya Drini, Baron, Siung, dan Nguyahan di sebelah barat Ngrenehan. Di antara pantai tersebut tempat favorit kami adalah pantai Drini. Pada tahun 2012 sungguh kami bisa menikmati serasa memiliki pantai bila main ke Drini. Karena belum begitu ramai. Listrik di pantai Drini juga baru masuk sekitar awal 2012.
Masih bisa Menggelar Dome di depan Warung, sekarang tidak lagi ...

Hamparan pasir putihnya begitu panjang dan bersih. Sementara itu zona pasang surutnya aman untuk berenang bagi anak-anak karena ada bukit karang yang menjadi penghalang ombak.
Tetapi mulai 2012 pembangunan di kawasan pantai selatan Gunungkidul melaju sangat pesat karena kunjungan wisata Gunungkidul juga berkembang. Hal ini berdampak pada penataan kawasan pantai termasuk Drini. Masyarakat yang berjualan di Pantai Drini beranmai-ramai membangun gazebo di zona pasang surut.
Satu sisi memang pengunjung menjadi nyaman karena ada fasilitas gratis untuk duduk dan berteduh. Namun akhirnya zona pasir menjadi semakin sempit dan bagi kami yang sudah kemping jadi makin sulit mendirikan dome.
Perubahan ini sudah kami perkirakan bahwa nantinya memang tidak lagi nyaman kemping di pantai-pantai yang ramai. Yang jelas kami sudah cukup puas menggelar dome di Pantai Drini. Dari hanya 2 dome saja, kemudian ada keluarga yang pengen ikut jadi 4-5 dome.

Kata orang bijak (siapa ya nggak tau deh) tidak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri..

Salam dolan-dolan

Thursday, September 26, 2013

Seperti Baru Kemarin

Hidup itu mengalir begitu saja. Saat menjalani terasa lama,membosankan dan kadang-kadang membuat marah. Saat ada kesempatan untuk berhenti dan menengok ke belakang lalu terasalah kita sudah mengalami sebuah peristiwa, sebuah perjalanan. Lalu terbersit tanya dalam hati :" Lho itu kan setahun yang lalu ya.. seperti baru kemarin saja.
Itulah yang beberapa waktu saya alami. September 2013 hari apa saya lupa.  O, ya kalo tidak salah hari Jumat 2 minggu yang lalu, sekarang tanggal 26 berarti waktu itu tanggal 12 yah..
Sepulang dari sekolah Ibunya anak-anak langsung ditodong sama Kak Jati dan Dik AJi : Bu pantai. Nunung istriku pulang jam setengah empat, hari Jumat memang dia full mengajar. Ya sudah tidak bisa, setelah persiapan logistik sedikit masuk ke boks plastik dan kami berangkai menuju Baron. Tidak lupa kedua anak kembarku membaca truk mainan. Kutanya untuk apa bawa-bawa truk segala kan mau ke pantai, mau bawa pasir katanya.

Baron sudah sepi, tapi masih ada beberapa pengunjung  di keremangan malam dan bayang-bayang kapal. Nelayan tidak melaut, kapal-kapaknya tertambat di pasiran pantai.

Adda parkir di barat TPI yang sudah sepi. Cuma ada 2 lelaki di sekitar pasar ikan. Salah satunya berjalan ke arah kami dengan langkah terpatah-patah. Lalu setelah dekat kami ngobrol-ngobrol. Namanya Pak Karto, punya warung di sisi timur. Saya ingat pernah ke warungnya waktu penelitian ikan. Setelah agaklama bercerita barulah Pak Karto mengingat kami yang dulu mengukur dan menimbang ikan. Saya dulu kalo ambil sampel ikan pas tangkapan malam kemudian mengukur ikan di warung Pak Karto. Dulu ditemani Gatot.

"Sudah lama gak kesini ya Mas,"  katanya dalam Bahasa Jawa.
"Ya paling 3 bulan saya tidak ke Baron Pak, jawabku.
Ya lebih no Mas. hampir 1 tahun lho, sanggah Pak Karto
Weh lha sepertinya baru kemarin kan Pak. Yayaya sudah setahun ya. Iya terakhir saya mengukur ikan bulan September 2012. Weh berarti sudah lama juga ya. Gak terasa ya pak tahu-tahu sudah setahun.

Ternyata kami penelitian ikan di Baron sudah setahun yang lalu. Berlari-lari mengejar nelayan ke TPI, mengukur ikan berkerjaran dengan ibu-ibu bakul.  Pernah juga pada bulan terakhir pengambilan sampel selama 1 bulan penuh tiap hari ke Baron termasuk pas Hari Lebaran. Kami berdua nge-doom di pantai untuk menunggu nelayan yang pulang melaut.

Waktu berlalu begitu cepat setelah kita jalani. Saat kita jalani dan kita lihat ke depan terbersit pertanyaan ah masih lama 1 tahun lagi, 5 tahun lagi, 10 tahun lagi. Setelah kita tengok ke belakang ternyata hari yang rasanya baru kemarin  sudah 5 tahun, sudah 10 tahun, sudah 15 tahun lalu.

Seperti waktu lebaran September kemarin, saya ketemu dengan teman-teman seangkatan di Biologi UGM. Ternyata sudah 13tahun lalu kami meninggalkan kampus. Anak -anak kembarku yanglahir tahun 2009 ternyata umurnya sudah hampir 5 tahun. Seperti baru kemarin  menggendong naik becak ke gereja. Sewa dua becak karena tidak muat kalau hanya 1. Seperti baru kemarin saja aku menunggui istri yang pendarahan di sal rumah sakit Panti Rapih selama 1 minggu penuh. Sementara aku juga harus menyiapkan ujian pendadaran.


Lalu rasa syukur yang bertunas dari hati ini. Terima kasih Tuhan, aku kau perkenankan menjaga istri dan dua anakku.

Thursday, October 25, 2012

Becak Pak Siswanto



Wonosari, 25 Oktober 2012.
Andai saja Siswanto (45th) tidak bertekad mandiri mungkin saat ini dia masih bekerja sebagai buruh atau karyawan di belantara Jakarta. Sembilan tahun yang lalu memang Siswanto, ayah seorang putra, masih bekerja di Jakarta dan sekitar jawa Barat. Memang selepas sekolah menengah dia kemudian kerja apa saja di sana. Setelah bekerja sekitar 6 tahun, Siswanto nekad menikahi seorang gadis yang saat ini memberinya seorang putra. Bagi dia menikah sekarang atau nanti toh tidak ada perbedaanya hanya beda waktu saja. Maka  secara nekad dia menikah. Keyakinanya waktu itu dengan menikah dia akan lebih bertanggungjawab dan semangat dalam bekerja.  Beberapa tahun setelah menikah dirasa keadaan ekonominya tidak meningkat maka di pulang ke desanya di Paliyan, Wonosari Gunungkidul. Anak istrinya dibawahnya serta.
Kembali ke desa memang ayem tentrem, tapi dari segi penghasilan tentu tidak seberapa dibanding kerja di Ibukota. Satu dua tahun ini dia bekerja pada seorang juragan yang memilik usaha sampingan becak hias. Dua tahun ini memang usaha becak hias di seputar alun-alun Wonosari cukup marak. Setelah sekitar setahun bekerja pada juraganya itu yang seorang polisi, Siswanto punya keberanian untuk wirausaha. Dia kemudian membuat becak hias serupa walaupun sederhana. Becaknya dibuat di sebuah bengkel di daerah Piyaman. Siswanto menyebut angka sekitar  1-2 juta untuk biaya pembuatan 1 unit becak beserta hiasan lampunya. Bahkan bila hiasan lampunya cukup banyak bisa menyedot dana 1 jutaan sendiri. Uang sebanyak itu memang cukup berharga bagi Siswanto, namun dari ketekunannya tersebut dia sekarang sudah memiliki 6 buah becak. Sementara yang dioperasikan sekitar 4 buah. Dari hasil mengoperasikan becak wisata di seputaran alun-alun pemda wonosari ini dia bisa meraih penghasilan kotor 1,5 juta perbulan.  Hasil ini tentu sudah jauh lebih besar jika dia bekerja buruh di WOnosari. Pun dibandingkan dengan UMP sekarang yang kurang dari 900rb.
Begitulah sosok SIswanto, yang dengan tekun ikut menggenjot becak yang disewa 10rb setiap putaran mengelilingi alun-alun pemda. Dia juga merasakan jasa  seperti ini memang harus  bisa pintar-pintar menawarkan kepada para pengunjung.
……………….

Friday, October 19, 2012

Keunikan kehidupan di Gua-gua Daerah Tepus, Gunungkidul



Daerah Tepus Gunungkidul ternyata menyimpan misteri yang belum terungkap. Daerah karst ini pada musim kemarau keadaanya kering kerontang sehingga hanya seperti tanaman ketela yang dapat tumbuh di ladang penduduk. Untuk mencari air penduduk biasanya harus berjalan jauh ke sumber-sumber air atau mengandalkan kiriman dari mobil tangki yang dioperasikan swasta (bisnis). Harganya berkisar dari 70-200 ribu per tangki volume 5.000 liter.