Tuesday, April 21, 2020

PERSEMBAHAN HIDUP MBAH PINGGIR



Simbah tua yang bernama Mbah Pinggir, tiap hari berjalan belasan kilometer dengan beban di punggungnya berisi sayur mayur, ketela, rebung dan lain-lain. Dibawanya sayuran tersebut menuju pasar.
Beban di punggung yang berat dan cucuran keringatnya tidak melenyapkan senyuman yang selalu merekah ketika bertemu dengan orang. Pun ketika bertemu saya yang sedang duduk-duduk di depan rumah. Bahkan kadang Mbah Pinggir malahan memberikan beberapa ikat sayuran kepada saya, setengah memaksa agar saya menerimanya. Saya lebih sering menolak, dan Mbah Pinggir meninggalkan begitu saja di lantai rumah yang akhirnya terpak saya ambil.
Mbah Pinggir tentu bukan orang kaya, hidupnya pas-pasan. Namun tetap berusaha memberi dengan kekurangannya tersebut. Saya jadi malu jika mengingat diri sendiri. Berapa yang sudah saya berikan ke orang lain hari ini? Seringkali betapa pelitnya hati ini untuk melepaskan kepemilikan barang-barang yang bahkan sudah jarang dipakai? Saya lalu mengamati lemari pakaian saya, berpintu 3 dari kayu jati. Yang setiap ruangnya sudah penuh berjejal pakaian dari kaos, baju, celana. Padahal berapa banyak yang sering saya pakai setiap harinya? Di teras rumah juga ada beberapa pasang sepatu berlapir debu karena hampir tidak pernah dipakai.Oh betapa tidak sederhanya hidupku. Banyak barang kubeli, jarang kupakai. Hanya dipakai sekali dua kali lalu ditumpuk begitu saja. Buku-buku di rak juga demikian, betapa banyaknya yang belum sempat dibaca, hanya ingin beli dan ditumpuk begitu saja. Jika itu kuberikan kepada orang lain mungkin akan lebih berguna.
Mbah Pinggir, orang miskin, tidak memberi dari kelimpahan hidupnya. Nilai dagangan sayurannya berkisar 100-150ribu. Keuntungan yang diraihnya paling banyak 30 ribu jika laku semua, dipotong uang untuk beli sarapan. Namun dia dengan iklas memberiku seikat sayuran.Nilainya tidak seberapa, mungkin 3000 rupiah saja. Tapi itu berarti mengurangi keuntungan yang bakal didapatnya. Saya kadang “eman” untuk membayar parkir 2000 rupiah ke tukang parkir. Kalaupun memberi dengan perasaan “nggerundel”.
Saya lalu teringat pada kisah persembahan janda miskin. Hanya dua peser yang ia persembahkan kepada Tuhan. Namun itulah harta yang dimiliki. Dan Tuhan berkenan : Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahka ia memberi seluruh nafkahnya (bdk Luk 21 : 1-4).
Saya lalu teringat pada seorang temah yang bercerita pernah mengosongkan tabungannya, diberikannya seluruh uang di tabungan itu untuk sedekah. Dan ajaibnya hidupnya tidak kekurangan sampai sekarang. Rejekinya datang dari berbagai pintu  yang tidak ia sangka.
Memberi memang kata yang mudah diucapkan, namun sulit untuk dilakukan. Memberi dengan iklas kuncinya. Pada saat tangan kita terulur dengan tulus saat itulah kita turut melepaskan kekhawatiran akan hidup kita. Santo Matius menasihati : Janganlah khawatir akan hidupmu. Akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir  pula akan tubuhmu apa yang  hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?(bdk Mat 6 : 25-26)

ALusius Heru
18 Februari 2020



No comments:

Post a Comment