Simbah
tua yang bernama Mbah Pinggir, tiap hari berjalan belasan kilometer dengan
beban di punggungnya berisi sayur mayur, ketela, rebung dan lain-lain.
Dibawanya sayuran tersebut menuju pasar.
Beban
di punggung yang berat dan cucuran keringatnya tidak melenyapkan senyuman yang
selalu merekah ketika bertemu dengan orang. Pun ketika bertemu saya yang sedang
duduk-duduk di depan rumah. Bahkan kadang Mbah Pinggir malahan memberikan
beberapa ikat sayuran kepada saya, setengah memaksa agar saya menerimanya. Saya
lebih sering menolak, dan Mbah Pinggir meninggalkan begitu saja di lantai rumah
yang akhirnya terpak saya ambil.
Mbah
Pinggir tentu bukan orang kaya, hidupnya pas-pasan. Namun tetap berusaha
memberi dengan kekurangannya tersebut. Saya jadi malu jika mengingat diri
sendiri. Berapa yang sudah saya berikan ke orang lain hari ini? Seringkali
betapa pelitnya hati ini untuk melepaskan kepemilikan barang-barang yang bahkan
sudah jarang dipakai? Saya lalu mengamati lemari pakaian saya, berpintu 3 dari
kayu jati. Yang setiap ruangnya sudah penuh berjejal pakaian dari kaos, baju,
celana. Padahal berapa banyak yang sering saya pakai setiap harinya? Di teras
rumah juga ada beberapa pasang sepatu berlapir debu karena hampir tidak pernah
dipakai.Oh betapa tidak sederhanya hidupku. Banyak barang kubeli, jarang
kupakai. Hanya dipakai sekali dua kali lalu ditumpuk begitu saja. Buku-buku di
rak juga demikian, betapa banyaknya yang belum sempat dibaca, hanya ingin beli
dan ditumpuk begitu saja. Jika itu kuberikan kepada orang lain mungkin akan
lebih berguna.
Mbah
Pinggir, orang miskin, tidak memberi dari kelimpahan hidupnya. Nilai dagangan
sayurannya berkisar 100-150ribu. Keuntungan yang diraihnya paling banyak 30
ribu jika laku semua, dipotong uang untuk beli sarapan. Namun dia dengan iklas
memberiku seikat sayuran.Nilainya tidak seberapa, mungkin 3000 rupiah saja.
Tapi itu berarti mengurangi keuntungan yang bakal didapatnya. Saya kadang
“eman” untuk membayar parkir 2000 rupiah ke tukang parkir. Kalaupun memberi
dengan perasaan “nggerundel”.
Saya
lalu teringat pada kisah persembahan janda miskin. Hanya dua peser yang ia
persembahkan kepada Tuhan. Namun itulah harta yang dimiliki. Dan Tuhan berkenan
: Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari
kekurangannya, bahka ia memberi seluruh nafkahnya (bdk Luk 21 : 1-4).
Saya
lalu teringat pada seorang temah yang bercerita pernah mengosongkan
tabungannya, diberikannya seluruh uang di tabungan itu untuk sedekah. Dan
ajaibnya hidupnya tidak kekurangan sampai sekarang. Rejekinya datang dari
berbagai pintu yang tidak ia sangka.
Memberi
memang kata yang mudah diucapkan, namun sulit untuk dilakukan. Memberi dengan
iklas kuncinya. Pada saat tangan kita terulur dengan tulus saat itulah kita turut
melepaskan kekhawatiran akan hidup kita. Santo Matius menasihati :
Janganlah khawatir akan hidupmu. Akan apa yang hendak kamu makan atau minum,
dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu
apa yang hendak kamu pakai. Bukankah
hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada
pakaian?(bdk Mat 6 : 25-26)
ALusius
Heru
18
Februari 2020
No comments:
Post a Comment