Friday, November 4, 2011

Belajar Kehidupan dari Pak Nelayan (1)

Sore itu tanggal 2 Nov, sekitar jam 3 saya bersama istri  main ke Pantai Baron. Pantai tidak begitu ramai karena memang bukan hari libur namun ada juga beberapa pengunjung yang nampaknya dari luar Gunungkidul juga sedang menikmati suasana pantai. Dibandingkan dengan pantai lain di Gunungkidul Baron memang jauh lebih ramai karena lokasinya lebih dekat bila dijangkau dari Jogja.
Sore itu hampir semua kapal nelayan yang berjumlah sekitar 60 masih sandar di pantai. Lalu kami ketemu dengan salah seorang nelayan, pak Yadi namanya.


Dari penampilannya saya kira umurnya sekitar 40an tahun, tapi dari pengakuanya ternyata baru 30an tahun. Penampilannya jauh lebih tua daripada umurnya mungkin karena ditempa oleh kehidupan laut yang keras. Tapi kehidupan yang keras ini tidak mengurangi sikap dan tutur katanya yang ramah sama seperti nelayan lain di pantai Baron.
Kami lalu ngobrol-ngbrol di tengah kesibukanya mempersiapkan jaring tangkap.
Pak Yadi menyiapkan jaring
Pak Yadi, pria yang berumur 30an tahun, lulusan SD, berasal dari Dusun Sumuran, Kemadang, sudah mengenal kehidupan laut sejak dirinya duduk di Sekolah dasar. Seperti biasa layaknya seorang anak kecil, perkenalanya dengan kehidupan laut dan nelayan diawali dari main-main karena rumahnya tidak terlalu jauh dari pantai. Lalu dari main-main ini berlanjut terus. Selepas SD, secara sembunyi-sembunyi tanpa ijin bapaknya, Pak Yadi kadang membantu nelayan menangkap ikan. Pada tahun 1997 saat Indonesia terimbas krisis moneter yang hebat, Pak Yadi berumur 13/14 tahun tapi dia tidak meneruskan ke SMP. Waktu itu dia sudah mulai kerja jadi nelayan sesungguhnya. Dolar saat itu 15rb rupiah. Banyak usaha di Indonesia yang kolaps terimbas krisis.
Tapi bagi nelayan Baron tahun 1997-1998 merupakan tahun berkah. Waktu itu tangkapan Lobster melimpah ruah.Nelayan tidak perlu melaut sampai jauh, cukup di depan pantai di Sekitar parang racuk (sebutan untuk karang di ujung pantai Baron) jaraknya tidak sampai 30menit dari pantai,hasil tangkapan lobster sudah sangat banyak , sampai 1 kuintal lebih. Harga jual di TPI kala itu 250rb per kilo. Jadi misal mendapat 100 kg saja dalam waktu sebentar sudah jutaan.



Pantai Baron (foto HT,2011)


Pernah dalam 1 bulan saja setoran untuk juraganya mencapai 90 juta.Jumlah yang sungguh fantastis bahkan untuk saat ini. Maka 1997-1998 merupakan tahun berkah bagi nelayan Baron, dan pantai selatan GK pada umumnya.
Seiring dengan penghasilan yang besar ini, kehidupan nelayan berubah. Para nelayan bisa membangun rumah, membeli perabotan, sepeda motor menyekolahkan anak dll. Jejak kesuksesan para nelayan ini masih terlihat sekarang. Bila kita masuk ke dusun-dusun di Desa Kemadang, terlihat rumah-rumah berkeramik yang cukup bagus.


Kembali ke pak Yadi... seorang lulusan SD, yang akhirnya tidak menamatkan SMPnya karena sudah telanjur menjadi nelayan. Bapaknya sebenarnya berharap dia sekolah lagi. Tapi dia sudah  membuktikan pilihan hidupnya. Dari pekerjaanya itu saat ini Pak Yadi memiliki 3 buah kapak yang nama lambungnya Ngudi Rejeki. Walaupun begitu dia tetap bekerja mencari ikan bersama kru nya. Dia juga bisa menyekolahkan adiknya sampai tingkat SMA.
Pak Yadi berharap anaknya bisa sekolah tinggi.

No comments:

Post a Comment