Sore itu hampir semua kapal nelayan yang berjumlah sekitar 60 masih sandar di pantai. Lalu kami ketemu dengan salah seorang nelayan, pak Yadi namanya.
Dari penampilannya saya kira umurnya sekitar 40an tahun, tapi dari pengakuanya ternyata baru 30an tahun. Penampilannya jauh lebih tua daripada umurnya mungkin karena ditempa oleh kehidupan laut yang keras. Tapi kehidupan yang keras ini tidak mengurangi sikap dan tutur katanya yang ramah sama seperti nelayan lain di pantai Baron.
Kami lalu ngobrol-ngbrol di tengah kesibukanya mempersiapkan jaring tangkap.
| Pak Yadi menyiapkan jaring |
Tapi bagi nelayan Baron tahun 1997-1998 merupakan tahun berkah. Waktu itu tangkapan Lobster melimpah ruah.Nelayan tidak perlu melaut sampai jauh, cukup di depan pantai di Sekitar parang racuk (sebutan untuk karang di ujung pantai Baron) jaraknya tidak sampai 30menit dari pantai,hasil tangkapan lobster sudah sangat banyak , sampai 1 kuintal lebih. Harga jual di TPI kala itu 250rb per kilo. Jadi misal mendapat 100 kg saja dalam waktu sebentar sudah jutaan.
| Pantai Baron (foto HT,2011) |
Seiring dengan penghasilan yang besar ini, kehidupan nelayan berubah. Para nelayan bisa membangun rumah, membeli perabotan, sepeda motor menyekolahkan anak dll. Jejak kesuksesan para nelayan ini masih terlihat sekarang. Bila kita masuk ke dusun-dusun di Desa Kemadang, terlihat rumah-rumah berkeramik yang cukup bagus.
Kembali ke pak Yadi... seorang lulusan SD, yang akhirnya tidak menamatkan SMPnya karena sudah telanjur menjadi nelayan. Bapaknya sebenarnya berharap dia sekolah lagi. Tapi dia sudah membuktikan pilihan hidupnya. Dari pekerjaanya itu saat ini Pak Yadi memiliki 3 buah kapak yang nama lambungnya Ngudi Rejeki. Walaupun begitu dia tetap bekerja mencari ikan bersama kru nya. Dia juga bisa menyekolahkan adiknya sampai tingkat SMA.
Pak Yadi berharap anaknya bisa sekolah tinggi.
No comments:
Post a Comment