ditulis oleh : Alusius Heru Tricahyanto
Seorang teman yang sudah mapan bekerja di perusahaan Farmasi di Jakarta
memutuskan berhenti dan pulang ke Jogja.
Karirnya di kantor sudah cukup tinggi dengan gaji yang lumayan tentunya.
Di Jogja merintis usaha sendiri bekerja
dari nol bersama istri yang baru dinikahinya.
Ada juga teman yang tadinya hidup di jalan pergi kesana kemari
dengan klub sepeda motornya. Hidupnya
bebas tanpa aturan kapan harus pulang.
Yang penting berkumpul dengan teman dan pergi dengan vespa butut ke mana-mana.
Sering tidur di pinggir jalan atau
emper toko pokoknya yang penting asal
berkumpul dengan teman hatinya senang. Uang sedikit tidak apa-apa. Akhirnya
terpanggirl pulang ke desanya di pesisir selatan Gunungkidul. Di rumahnya yang
kini dijadikan sanggar anak-anak desa dikumpulkan. Ia mengadakan kegiatan yang
mendidik untuk anak-anak sekolah sehingga tidak
berkeliaran di tempat wisata dan terpapar dengan hal-hal yang belum
selayaknya. Ibu-ibu diajari ketrampilan sehingga bisa mempunyai penghasilan
tambahan yang menopang uang belanja keluarga. Anak-anak muda putus sekolah
diberikan tempat sebuang warung di atas
bukit di pinggir pantai yang ramai. Sehingga mereka punya pekerjaan dan
penghasilan. Hidupnya saat ini untuk mengabdi untuk mengurusi orang lain.
Setelah
sekian tahun hidup, bekerja atau berumah tangga seseorang akan memasuki hidup
yang mulai nyaman. Otak manusia caranya kerjanya membuat pola-pola. Pola irama
harian, pola berpikir sampai dengan pola
hidup. Dengan pola-pola ini kegiatan manusia bisa lebih cepat karena dilakukan
otomatis tanpa banyak berpikir. Semakin
banyak pola yang sudah ada dalam otak maka seseorang akan memasuki hidup yang makin nyaman. Namun
kenyamanan ini bisa menjadi jebakan. Seperti orang yang senang merokok setelah
makan. Jika tidak melakukan nya maka ada rasa yang tidak nyaman. Sehingga sulit
sekali untuk berhenti merokok.
Pola
hidup yang sudah mapan dan nyaman terkadang bisa menjebak kita. Hidup menjadi
monoton dan tidak maju-maju. Pola pikir yang sudah mapan menjadi tidak kreatif
karena tidak bisa melihat dari sisi lain yang berbeda. Penulis mencoba melihat drama penyaliban Yesus
sebagai kepasrahan Yesus untuk mendobrak
zona nyamannya. Yesus sendiri sudah
meramalkan bahwa Ia sebagai Anak Allah akan mengalami sengsara namun bangkit
dari kematian. Waktu itu para murid : Petrus dan Yakobus tidak memahami apa
yang dikatakanNya. Sebagai anak Allah
tentu Ia memiliki kuasa untuk menghindar dari penyaliban. Namun peristiwa
sengsara itu diterimanya dengan penuh keiklasan demi menebus dosa umat manusia.
Yesus menerima diri untuk mengalami peristiwa yang mengerikan bagi seorang
manusia demi sebuah hal yang mulia yaitu penebusan dosa.
Keluar
dari zona nyaman memang perlu dilakukan untuk meraih hal yang lebih mulia.
Seorang mahasiswa harus mati-matian kerja lembur menulis skripsi dan
disertasinya agar lulus studi. Seorang karyawan atau guru harus lembur dan
berpikir untuk menemukan metode pembelajaran yang tepat untuk anak didiknya
alih-alih tidur di malam hari yang nyenyak. Seorang pengusaha mengorbankan
waktu kebersamaan dengan keluarga demi
hidup istri dan anak-anaknya.
Masing-masing
orang berada dalam zona nyamannya sendiri. Ada pilihan yang harus diambil tetap
disitu atau bergerak pindah ke zona lain. Ada hal lebih baik dan mulia di zona
lain namun untuk pindah perlu perjuangan dan pengorbanan. Ada waktu yang harus
dikorbankan, biaya dan tenaga juga harus dikeluarkan. Ada sedikit keraguan
yang menyertai namun dorongan untuk
hidup lebih baik, atau untuk melakukan seuatu yang mulia bisa jadi enegeri yang
lebih dominan. Namun semuanya terserah kita.
Wonosari,
4 maret 15
Dikirim
untuk Majalah Utusan
Dimuat
di majalah utusan edisi 5 tahun 65 Mei 2015
No comments:
Post a Comment