Friday, March 17, 2017

Jebakan di Zona Nyaman



ditulis oleh :  Alusius Heru Tricahyanto

 Seorang teman yang sudah mapan  bekerja di perusahaan Farmasi di Jakarta memutuskan berhenti dan pulang ke Jogja.  Karirnya di kantor sudah cukup tinggi dengan gaji yang lumayan tentunya. Di Jogja   merintis usaha sendiri bekerja dari nol bersama istri yang baru dinikahinya.  Ada juga teman yang tadinya hidup di jalan pergi kesana kemari dengan  klub sepeda motornya. Hidupnya bebas tanpa  aturan kapan harus pulang. Yang penting berkumpul dengan teman dan pergi dengan vespa butut ke mana-mana. Sering tidur di  pinggir jalan atau emper  toko pokoknya yang penting asal berkumpul dengan teman hatinya senang. Uang sedikit tidak apa-apa. Akhirnya terpanggirl pulang ke desanya di pesisir selatan Gunungkidul. Di rumahnya yang kini dijadikan sanggar anak-anak desa dikumpulkan. Ia mengadakan kegiatan yang mendidik untuk anak-anak sekolah sehingga tidak  berkeliaran di tempat wisata dan terpapar dengan hal-hal yang belum selayaknya. Ibu-ibu diajari ketrampilan sehingga bisa mempunyai penghasilan tambahan yang menopang uang belanja keluarga. Anak-anak muda putus sekolah diberikan tempat  sebuang warung di atas bukit di pinggir pantai yang ramai. Sehingga mereka punya pekerjaan dan penghasilan. Hidupnya saat ini untuk mengabdi untuk mengurusi orang lain.
Setelah sekian tahun hidup, bekerja atau berumah tangga seseorang akan memasuki hidup yang mulai nyaman. Otak manusia caranya kerjanya membuat pola-pola. Pola irama harian, pola  berpikir sampai dengan pola hidup. Dengan pola-pola ini kegiatan manusia bisa lebih cepat karena dilakukan otomatis tanpa banyak berpikir.  Semakin banyak pola yang sudah ada dalam otak maka seseorang  akan memasuki hidup yang makin nyaman. Namun kenyamanan ini bisa menjadi jebakan. Seperti orang yang senang merokok setelah makan. Jika tidak melakukan nya maka ada rasa yang tidak nyaman. Sehingga sulit sekali untuk berhenti merokok.
Pola hidup yang sudah mapan dan nyaman terkadang bisa menjebak kita. Hidup menjadi monoton dan tidak maju-maju. Pola pikir yang sudah mapan menjadi tidak kreatif karena tidak bisa melihat dari sisi lain yang berbeda.  Penulis mencoba melihat drama penyaliban Yesus sebagai kepasrahan Yesus untuk  mendobrak zona nyamannya.  Yesus sendiri sudah meramalkan bahwa Ia sebagai Anak Allah akan mengalami sengsara namun bangkit dari kematian. Waktu itu para murid : Petrus dan Yakobus tidak memahami apa yang dikatakanNya.  Sebagai anak Allah tentu Ia memiliki kuasa untuk menghindar dari penyaliban. Namun peristiwa sengsara itu diterimanya dengan penuh keiklasan demi menebus dosa umat manusia. Yesus menerima diri untuk mengalami peristiwa yang mengerikan bagi seorang manusia demi sebuah hal yang mulia yaitu penebusan dosa.
Keluar dari zona nyaman memang perlu dilakukan untuk meraih hal yang lebih mulia. Seorang mahasiswa harus mati-matian kerja lembur menulis skripsi dan disertasinya agar lulus studi. Seorang karyawan atau guru harus lembur dan berpikir untuk menemukan metode pembelajaran yang tepat untuk anak didiknya alih-alih tidur di malam hari yang nyenyak. Seorang pengusaha mengorbankan waktu kebersamaan dengan keluarga  demi hidup istri dan anak-anaknya.
Masing-masing orang berada dalam zona nyamannya sendiri. Ada pilihan yang harus diambil tetap disitu atau bergerak pindah ke zona lain. Ada hal lebih baik dan mulia di zona lain namun untuk pindah perlu perjuangan dan pengorbanan. Ada waktu yang harus dikorbankan, biaya dan tenaga juga harus dikeluarkan. Ada sedikit keraguan yang  menyertai namun dorongan untuk hidup lebih baik, atau untuk melakukan seuatu yang mulia bisa jadi enegeri yang lebih dominan. Namun semuanya terserah kita.


Wonosari, 4 maret 15
Dikirim untuk Majalah Utusan
Dimuat di majalah utusan edisi 5 tahun 65 Mei 2015


No comments:

Post a Comment