Wednesday, November 23, 2011

Keunikan kehidupan di Gua-gua Daerah Tepus, Gunungkidul



Daerah Tepus Gunungkidul ternyata menyimpan misteri yang belum terungkap. Daerah karst ini pada musim kemarau keadaanya kering kerontang sehingga hanya seperti tanaman ketela yang dapat tumbuh di ladang penduduk. Untuk mencari air penduduk biasanya harus berjalan jauh ke sumber-sumber air atau mengandalkan kiriman dari mobil tangki yang dioperasikan swasta (bisnis). Harganya berkisar dari 70-200 ribu per tangki volume 5.000 liter.
Bila di permukaan  keadaanya kering kerontang maka di perut bumi sebenarnya tersimpan banyak air. Sebagai bukti di daerah Tepus banyak dijumpai  gua denga sungai bawah tanahnya. Gua di daerah karst terbentuk karena proses pelarutan batuan kapur oleh air. Air yang melarutkan batuan lama-kelamaan dalam jangka waktu ribuan tahun membentuk lorong-lorong yang semakin besar. Ukuranya bisa seluas lapangan bola atau bahkan lebih. Di sekitar pantai Siung , Desa Purwodadi, juga terdapat beberapa gua. Pada Bulan Agustus yang lalu penulis bersama beberapa teman dari Kupiyo Adventure berkesempatan untuk memasukinya.
Lorong masuk gua tersebut sempit, hampir tidak mengira bila bisa dimasuki orang. Untuk masuk gua jangan lupa memakai helm, memakai sepatu, dan membawa senter. Helm sangat penting untuk melindungi kepala karena untuk masuk lorong yang sempit seringkali kita harus menunduk.Jika tidak memakai hel kepala bisa terantuk batu.

Senter tentu saja sebagai alat penerang. Karena setelah beberapa meter masuk dari mulut gua, keadaannya gelap gulita tanpa cahaya sama sekali. Artinya sinar matahari sama sekali tidak bisa menembus ke daerah zona gelap total.
Apakah zona gelap total, dalam keadaan tanpa sinar matahari bisa ditemukan kehidupan?
Jawabnya : Bisa.
Penulis menemukan  beberapa jenis hewan di gua ini. Ada sejenis jangkrik gua yang bentuk tubuhnya sudah menyesuaikan dengan keadaan  gelap total ini. Hewan yang termasuk ordo Radophoridae ini ditemukan di tepi aliran sungai  sebuah gua di Tepus.
Ketika disenteri dalam jarak dekat hewan ini tidak memberi respon menghindar. Ini mungkin sebagai bukti bahwa karena sudah beradaptasi dengan kegelapan indera penglihatan sudah tidak berfungsi baik.

Karena indera ini tidak dibutuhkan lagi di keadaan tanpa cahaya. Tapi Tuhan Maha Adil, sebagai bentuk adaptasinya hewan ini memiliki sungut yang sangat panjang. Sungut ini sebagai indera peraba. Maka ketika didekati dengan tangan sungutnya bergerak mendeteksi gerakan di sekitarnya. Sebagai catatan hewan ini tidak berbahaya, menggigit atau beracun seperti sebagian besar hewan gua lainnya.
Penulis juga menemuka hewan lain, yaitu sejenis kepiting gua. Tubuhnya berwarna pucat. Jenis kepiting ini bentuknya seperti kepiting sungat tawar. Ukuranya sektiar 15-20 cm. Kepiting ini biasa ditemukan di gua yang ada aliran sungainya. Ketika ditemukan , gerakanya cenderung lambat tidak agresif seperti kepiting sungai di luar gua.
warna tubuhnya memucat, tanda bahwa sudah terjadi adaptasi dengan lingkungan gelap total.

Hewan gua ternyata memilik cara bertahan hidup sendiri. Cara menemukan makanan, cara hidup dan cara berkembang biak. Relung ekologinya sempit, dan  mungkin sudah tidak dapat hidup di luar gua lagi. Jika daerah karst banyak yang rusak, atau gua-gua rusak, maka hewan-hewan ini terancam kehidupanya. Dari segi ilmu pengetahuan hewan ini penting untuk dipelajari dari sisi taksonomi, ekologi, maupun evolusinya. Keberadannya merupakan bukti bahwa suatu jenis hewan akan beradaptasi dengan lingkungannya. Jika daerah karst rusak, maka boleh jadi beberpa tahun ke depan kita atau anak cucu kita sudah tidak bisa menemui hewan-hewan tersebut. Menjaga lingkungan karst dengan tidak merusaknya merupakan langkah yang bijaksana.

------wonosari, 22 nov 2011, 11.30 wib --------




No comments:

Post a Comment