Daerah Tepus Gunungkidul ternyata
menyimpan misteri yang belum terungkap. Daerah karst ini pada musim kemarau
keadaanya kering kerontang sehingga hanya seperti tanaman ketela yang dapat
tumbuh di ladang penduduk. Untuk mencari air penduduk biasanya harus berjalan
jauh ke sumber-sumber air atau mengandalkan kiriman dari mobil tangki yang
dioperasikan swasta (bisnis). Harganya berkisar dari 70-200 ribu per tangki
volume 5.000 liter.
Bila di permukaan keadaanya kering kerontang maka di perut bumi
sebenarnya tersimpan banyak air. Sebagai bukti di daerah Tepus banyak dijumpai gua denga sungai bawah tanahnya. Gua di daerah
karst terbentuk karena proses pelarutan batuan kapur oleh air. Air yang
melarutkan batuan lama-kelamaan dalam jangka waktu ribuan tahun membentuk
lorong-lorong yang semakin besar. Ukuranya bisa seluas lapangan bola atau
bahkan lebih. Di sekitar pantai Siung , Desa Purwodadi, juga terdapat beberapa
gua. Pada Bulan Agustus yang lalu penulis bersama beberapa teman dari Kupiyo
Adventure berkesempatan untuk memasukinya.
Lorong masuk gua tersebut sempit,
hampir tidak mengira bila bisa dimasuki orang. Untuk masuk gua jangan lupa
memakai helm, memakai sepatu, dan membawa senter. Helm sangat penting untuk
melindungi kepala karena untuk masuk lorong yang sempit seringkali kita harus
menunduk.Jika tidak memakai hel kepala bisa terantuk batu.
Senter tentu saja
sebagai alat penerang. Karena setelah beberapa meter masuk dari mulut gua,
keadaannya gelap gulita tanpa cahaya sama sekali. Artinya sinar matahari sama
sekali tidak bisa menembus ke daerah zona gelap total.
Apakah zona gelap total, dalam keadaan tanpa sinar matahari
bisa ditemukan kehidupan?
Jawabnya : Bisa.
Penulis menemukan
beberapa jenis hewan di gua ini. Ada sejenis jangkrik gua yang bentuk
tubuhnya sudah menyesuaikan dengan keadaan
gelap total ini. Hewan yang termasuk ordo Radophoridae ini ditemukan di
tepi aliran sungai sebuah gua di Tepus.
Ketika disenteri dalam jarak dekat hewan ini tidak memberi respon
menghindar. Ini mungkin sebagai bukti bahwa karena sudah beradaptasi dengan
kegelapan indera penglihatan sudah tidak berfungsi baik.
Karena indera ini
tidak dibutuhkan lagi di keadaan tanpa cahaya. Tapi Tuhan Maha Adil, sebagai
bentuk adaptasinya hewan ini memiliki sungut yang sangat panjang. Sungut ini
sebagai indera peraba. Maka ketika didekati dengan tangan sungutnya bergerak
mendeteksi gerakan di sekitarnya. Sebagai catatan hewan ini tidak berbahaya,
menggigit atau beracun seperti sebagian besar hewan gua lainnya.
Penulis juga menemuka hewan lain, yaitu sejenis kepiting
gua. Tubuhnya berwarna pucat. Jenis kepiting ini bentuknya seperti kepiting
sungat tawar. Ukuranya sektiar 15-20 cm. Kepiting ini biasa ditemukan di gua
yang ada aliran sungainya. Ketika ditemukan , gerakanya cenderung lambat tidak
agresif seperti kepiting sungai di luar gua.
warna tubuhnya
memucat, tanda bahwa sudah terjadi adaptasi dengan lingkungan gelap total.
Hewan gua ternyata memilik cara bertahan hidup sendiri. Cara
menemukan makanan, cara hidup dan cara berkembang biak. Relung ekologinya
sempit, dan mungkin sudah tidak dapat
hidup di luar gua lagi. Jika daerah karst banyak yang rusak, atau gua-gua
rusak, maka hewan-hewan ini terancam kehidupanya. Dari segi ilmu pengetahuan
hewan ini penting untuk dipelajari dari sisi taksonomi, ekologi, maupun
evolusinya. Keberadannya merupakan bukti bahwa suatu jenis hewan akan
beradaptasi dengan lingkungannya. Jika daerah karst rusak, maka boleh jadi
beberpa tahun ke depan kita atau anak cucu kita sudah tidak bisa menemui
hewan-hewan tersebut. Menjaga lingkungan karst dengan tidak merusaknya
merupakan langkah yang bijaksana.
------wonosari, 22 nov 2011, 11.30 wib --------
No comments:
Post a Comment